Menyelamatkan
Bukti Cinta di Gunung Padang
Hamparan batu yang
tertata di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (10/2). Situs Gunung
Padang di ketinggian 894 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini merupakan
peningalan peradaban Megalitik sekitar rentang waktu 2500 - 1500 SM dan
merupakan situs megalitik terbesar se Asia Tenggara.
Dibangun ratusan hingga ribuan orang pada 2500-1500 tahun sebelum Masehi, situs
megalitik punden berundak Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, hingga kini
masih berdiri. Namun, tanpa perlindungan dan penataan, kawasan purba itu nyaris
tanpa makna.
Lama tersembunyi di antara semak dan pepohonan besar, kemegahan situs Gunung
Padang - sebagai bekas kawasan pemujaan kepada arwah nenek moyang yang dibangun
dengan arsitektur dan tata ruang yang cermat - terungkap lewat penelitian yang
dirintis Balai Arkeologi Nasional sejak 1979.
Arkeolog Soejono mengatakan, berdasarkan penampilan fisik dan lokasinya, situs tersebut diduga dibangun kelompok masyarakat Austronesia. Alasannya, karena kesamaan dalam banyak segi kehidupan dengan kelompok-kelompok Austronesia lain yang menetap di kawasan bertalian Asia Tenggara-Pasifik-Madagaskar.
Kesamaan itu, menurut Soejono, misalnya, fakta bahwa di bagian timur Mikronesia, tepatnya di Pulau Ponape, ditemukan peninggalan megalitik bernama Nan Madol yang memiliki 92 bangunan berundak yang tersusun dari batu-batu pilar besar mirip dengan batu-batu di Gunung Padang.
Situs megalitik punden berundak Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, terhampar di areal seluas 4,5 hektar (ha) dan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Bahan pembentuknya adalah batu andesit hasil aktivitas vulkanik 12 juta hingga 3 juta tahun lalu.
Gunung Padang berada antara Kampung Gunung Padang dan Kampung Cipanggulaan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka. Kawasan ini berjarak 30 kilometer (km) dari pusat kota Kabupaten Cianjur atau 75 km dari Kota Bandung.
Arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia Jabar, Pon Purajatnika, mengatakan, teknik arsitektur situs Gunung Padang kental dengan konsep mitigasi bencana alam, di antaranya pembuatan tembok batu penahan longsor di sekeliling bangunan utama. Tembok penahan dibuat dengan tanah uruk dan menumpukkan batu andesit secara horizontal dan vertikal.
Arkeolog Soejono mengatakan, berdasarkan penampilan fisik dan lokasinya, situs tersebut diduga dibangun kelompok masyarakat Austronesia. Alasannya, karena kesamaan dalam banyak segi kehidupan dengan kelompok-kelompok Austronesia lain yang menetap di kawasan bertalian Asia Tenggara-Pasifik-Madagaskar.
Kesamaan itu, menurut Soejono, misalnya, fakta bahwa di bagian timur Mikronesia, tepatnya di Pulau Ponape, ditemukan peninggalan megalitik bernama Nan Madol yang memiliki 92 bangunan berundak yang tersusun dari batu-batu pilar besar mirip dengan batu-batu di Gunung Padang.
Situs megalitik punden berundak Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, terhampar di areal seluas 4,5 hektar (ha) dan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Bahan pembentuknya adalah batu andesit hasil aktivitas vulkanik 12 juta hingga 3 juta tahun lalu.
Gunung Padang berada antara Kampung Gunung Padang dan Kampung Cipanggulaan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka. Kawasan ini berjarak 30 kilometer (km) dari pusat kota Kabupaten Cianjur atau 75 km dari Kota Bandung.
Arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia Jabar, Pon Purajatnika, mengatakan, teknik arsitektur situs Gunung Padang kental dengan konsep mitigasi bencana alam, di antaranya pembuatan tembok batu penahan longsor di sekeliling bangunan utama. Tembok penahan dibuat dengan tanah uruk dan menumpukkan batu andesit secara horizontal dan vertikal.
Penerapan lain adalah penyusunan batu dengan sedikit rongga tanpa perekat,
pembuatan 378 anak tangga tanpa mengubah kontur tanah, dan pemilihan tempat
yang dilindungi Gunung Emped yang lebih tinggi untuk mengurangi tiupan angin
kencang. ”Semuanya kemungkinan hanya menggunakan kayu atau bambu,” kata
Purajatnika.
Ahli geografi dari Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar, mengatakan, situs ini juga menorehkan perjalanan bangsa yang sangat menghormati arwah nenek moyang. Diperkirakan, ada ribuan orang yang terlibat dalam pembuatannya, mulai dari mencungkil batu dengan batu, membelah batu, mengangkut, hingga mengatur balok-balok batu. Dan, semuanya dilakukan secara sukarela. Konsep sukarela itu mirip dengan pembuatan kubur batu di Toraja.
Peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, menguatkan pendapat itu. Buktinya keberadaan sumur untuk menyucikan diri sebelum mendaki lima teras utama. Letaknya yang mengarah, bahkan satu garis lurus ke Gunung Gede, memperkuat dugaan akan sistem kepercayaan mereka di masa lalu. Gunung Gede lazim dijadikan patokan bangunan suci dan puncak tertinggi tempat tinggal para leluhur. ”Setiap teras melambangkan fase peribadatan dari teras terendah hingga tertinggi,” kata Lutfi yang meneliti situs sejak 1979.
Sisi astronomi juga sudah diterapkan dengan baik. Mereka membangun teras dengan pertimbangan rasi bintang dan bulan purnama. Hal ini berdasarkan perubahan bentuk ruang-ruang di setiap teras dan dikaitkan dengan orientasi tegak lurus ke Gunung Gede dan perjalanan bulan dan matahari.
Ia memperkirakan, ritual atau upacara dilaksanakan masyarakat Gunung Padang pada siang hingga pagi hari. Diawali penyucian diri di sumur dengan sumber air yang sangat jernih di kaki Gunung Padang, dilanjutkan menapaki setiap anak tangga yang menghubungkan teras pertama, lalu berlanjut ke teras kedua.
Ahli geografi dari Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar, mengatakan, situs ini juga menorehkan perjalanan bangsa yang sangat menghormati arwah nenek moyang. Diperkirakan, ada ribuan orang yang terlibat dalam pembuatannya, mulai dari mencungkil batu dengan batu, membelah batu, mengangkut, hingga mengatur balok-balok batu. Dan, semuanya dilakukan secara sukarela. Konsep sukarela itu mirip dengan pembuatan kubur batu di Toraja.
Peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, menguatkan pendapat itu. Buktinya keberadaan sumur untuk menyucikan diri sebelum mendaki lima teras utama. Letaknya yang mengarah, bahkan satu garis lurus ke Gunung Gede, memperkuat dugaan akan sistem kepercayaan mereka di masa lalu. Gunung Gede lazim dijadikan patokan bangunan suci dan puncak tertinggi tempat tinggal para leluhur. ”Setiap teras melambangkan fase peribadatan dari teras terendah hingga tertinggi,” kata Lutfi yang meneliti situs sejak 1979.
Sisi astronomi juga sudah diterapkan dengan baik. Mereka membangun teras dengan pertimbangan rasi bintang dan bulan purnama. Hal ini berdasarkan perubahan bentuk ruang-ruang di setiap teras dan dikaitkan dengan orientasi tegak lurus ke Gunung Gede dan perjalanan bulan dan matahari.
Ia memperkirakan, ritual atau upacara dilaksanakan masyarakat Gunung Padang pada siang hingga pagi hari. Diawali penyucian diri di sumur dengan sumber air yang sangat jernih di kaki Gunung Padang, dilanjutkan menapaki setiap anak tangga yang menghubungkan teras pertama, lalu berlanjut ke teras kedua.
Kemungkinan besar puncak upacara itu dilakukan
pada teras ketiga dan keempat saat sinar bulan menerangi puncak Gunung Padang.
Jejak proses ritual ini dapat dirasakan jika mengamati pola dan perubahan
orientasi setiap ruang atau bentuk bangun saat bulan purnama. Teras kelima
diperkirakan hanya boleh ditempati oleh pemimpin agama tertinggi. Hal itu
dibuktikan dengan adanya susunan batu seperti tempat duduk.
Yang patut disayangkan, kondisi semua situs itu saat ini memprihatinkan karena tidak ditemukan batas zonasi wilayah atau dukungan sumber data akurat untuk memperoleh informasi kawasan itu. Batuan andesit yang ada dibiarkan berserakan seperti tidak terurus. Pengunjung pun bebas memindahkan susunan batu sehingga sudah jelas mengubah, bahkan merusak artefak bernilai sejarah yang sebagian informasinya belum terungkap.
Salah satu pekerjaan rumah yang belum rampung adalah penemuan 13 teras penunjang di sisi timur serta sisa-sisa teras di sisi selatan pada September 2011.
Lutfi mengatakan, besar kemungkinan teras-teras itu mengitari seluruh sisi punden. Hanya saja susunan teras di sisi selatan banyak yang rusak, sementara sisi utara dan barat belum dapat diamati secara cermat. ”Masih banyak yang harus diungkap. Bukti kejayaan Nusantara di Gunung Padang belum akan selesai digali,” katanya.
Yang patut disayangkan, kondisi semua situs itu saat ini memprihatinkan karena tidak ditemukan batas zonasi wilayah atau dukungan sumber data akurat untuk memperoleh informasi kawasan itu. Batuan andesit yang ada dibiarkan berserakan seperti tidak terurus. Pengunjung pun bebas memindahkan susunan batu sehingga sudah jelas mengubah, bahkan merusak artefak bernilai sejarah yang sebagian informasinya belum terungkap.
Salah satu pekerjaan rumah yang belum rampung adalah penemuan 13 teras penunjang di sisi timur serta sisa-sisa teras di sisi selatan pada September 2011.
Lutfi mengatakan, besar kemungkinan teras-teras itu mengitari seluruh sisi punden. Hanya saja susunan teras di sisi selatan banyak yang rusak, sementara sisi utara dan barat belum dapat diamati secara cermat. ”Masih banyak yang harus diungkap. Bukti kejayaan Nusantara di Gunung Padang belum akan selesai digali,” katanya.
Sumber:
http://tanahair.kompas.com/read/2012/03/04/21300728/Menyelamatkan.Bukti.Cinta.di.Gunung.PadangIlmu Budaya Dasar (4KA23)
Fuad Ardhi Wibowo
1A111230
